Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Sang Rembulan pun Tersenyum

Sang Rembulan pun Tersenyum Oleh: Aisyah Asafid Abdullah Bersama sama merupakan sesuatu hal tidak mudah. Butuh kesabaran untuk selalu menunggu satu dengan yang lainnya. Mungkin kebanyakan bisa melakukannya kapan saja, tapi bagi Matahari bersama sama adalah hal yang dirindukan semenjak dulu. Bagaimana dia menunggu sang Rembulan saat senja namun tetap tidak bertemu. Terkadang Matahari begitu sedih melihat hal sepele dipermasalahkan. Banyak kata yg yang dilontarkan Bumi. Pungkasnya "Kapan bintang bintang itu datang?". Pungkasnya lagi "Kalau begini bisa terguncang Alam semesta" Begitu banyak sekali yang ia bicarakan. Sampai sampai Rembulan mendengar perkataa Bumi. Ia beranjak pergi sejenak dan menangis karna terguncang hatinya. Sejatinya tidak perlu ditunggu Bintang Bintang akan datang pada waktunya yang dikhendaki Allah. Menemui Sang Rembulan, penyejuk hati menenang Semesta dan menemani Bumi di kegelapan Malam. Bumi tidak menyadarinya karena Syetan Menutupi. Namun be...

Andai memiliki Kekuatan Seribu Tangan

Oleh : Aisyah Asafid Abdullah Seminggu ini ia mulai meniti niti hati. Agar lebih kuat meninggalkan separuh jiwanya. Jauh dilubuk hatinya ia tak ingin pergi, hanya saja pikirnya "Tanggung jawab harus dipertarungkan agar tidak ada kesalahan pahaman pada tiap sesama". Kendati ada saja yaang menemui ia pada titik kesedihan yg tak tertahankan karena beberapa faktor yang seharusnya mendukung tapi malah membuat ia "baper". Sepele karena sesuatu hal yang ia tidak sampai menyentuh karena ia tidak memiliki kekuatan seribu tangan. Pungkasnya dalam hati "Andai aku memiliki seribu tangan, jangankan mainan yang berceceran menjadi kuda pengangkut airpun akan aku lakukan". Kenyataannya, Ia hanya memiliki dua tangan namun pada dalam kenyakinannya ia bs memiliki kekuatan 1000 tangan. Namun pada pengerjaanny kekuatan 99,9 tangan masih loding badan sudah ringkih linu. Ketika sudah merasa linu, ia hanya menyadari keterbatasannya sehingga ia lebih memilih prioritaskan separ...

Bintang Lima

Oleh: Aisyah Asafid Abdullah Saya kasih bintang lima ya Bang! Begitu pungkasnya dalam hati. Sambil beristigfar. Bukan main ia hampir saja jatuh karena si Abang gojek mengemudi terlalu kencang dan menemui jalan terjal ahirnya ia yang boncengpun seperti terbang badannya yang besar terangkat dan blukk Alhamdulillah Allah maha baik masih menyelamatkan menuntun keseimbangan si pengemudi ojek online. Jumlah nominal pembayaran 38ribu biasanya ia beri genap jadi 50rb namun karena masih kesal ia hanya tambahkan 2 ribu. Katanya "Ada 10rb?". Sambil memberi uang 50rban. Namun tetap saja sampai tempat tujuan ia selalu bersyukur dan tetap kasih nilai Bintang Lima. Katanya dalam hati "Bukan berarti hal buruk harus dinilai buruk tetapi beri sanjungan jangan tanggung2 berikan ia Lima Bintang dengan harapan Si ojol mulai memikirkan betapa tidak enaknya tadi yang dibonceng hampir jatuh tetapi ia beri Bintang Lima..dengan harapan si ojol ambil langkah mulai besok ia akan berhati-hati...